PESANTREN: Wadah strategis pendidikan multikulturalisme

ayid

Oleh: Mohammed Farid

(Guru Antropologi MA Daruttauhid)

Di lingkungan sekolah, sering kita dengar sindiran “ambon” untuk menyebut salah satu siswa hanya karena ia berkulit hitam atau berambut keriting. Atau sebutan “cina” hanya karena matanya sipit. Meskipun kedua murid itu belum tentu berasal dari daerah yang disebutkan. Ada pula sebutan “londho”, berasal dari bahasa Jawa artinya “Belanda”, yang sering dialamatkan kepada anak-anak yang menderita kekurangan pigmen (kandungan warna pada kulit), dengan tubuh berwarna putih (kepucatan) dan rambut berwarna kuning (keputih-putihan). Karena fisiknya itu, ia disama-rupakan dengan orang Eropa (Belanda)

Tujuan sindiran itu sendiri lebih banyak muatan negatif, ketimbang positifnya. Karena itu disebut stigma. Anehnya, stigmatisasi etnis diatas terlanjur menjadi konsumsi publik sekolah, bahkan masyarakat umumnya. Karena terbiasa, maka tidak lagi dianggap sebuah masalah yang berarti

Padahal tidak sedikit kasus sosial berujung konflik berawal dari stigmatisasi etnis. Karena dalam bentuknya yang vulgar, stigmatisasi etnis dapat berwujud pengagungan etnis tertentu terhadap etnis lainnya, hal ini disebut etnosentrisme. Jika superioritas etnis ini telah mengendap kedalam sendi kehidupan sosial kita yang plural, maka konflik sosial tentu tidak dapat dihindarkan. Jadi, salah besar jika kita sepelekan persoalan ini

BELAJAR BUDAYA VS MENDIDIK ANAK BERBUDAYA

Jika dicari akar penyebab minimnya wawasan kultural masyarakat kita, maka setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi problem ini. Pertama, karena rendahnya minat belajar masyarakat kita tentang sejarah, sosial dan budaya. Kedua, karena kesalahan berpikir kita selama ini, bahwa pendidikan kebudayaan adalah monopoli bidang studi Antropologi

Pada umumnya, sebagian besar murid merasa bosan mengikuti pelajaran yang bernuansa sejarah, masyarakat, dan budaya. Apalagi jika pola pembelajaran yang disajikan terlalu rigid, kaku dan tidak dialogis. Lebih-lebih guru yang hobinya menulis di papan tulis hingga akhir pelajaran. Maka wajar saja jika mata pelajaran sejarah, sosiologi, dan antropologi sering menjadi “pengantar tidur” para siswa

Ini masalah besar yang harus dijawab para guru. Problem ketidakpedulian murid terhadap mata pelajaran harus dijawab dengan merubah cara berpikir guru dari sekedar “mengajar” murid, kearah “mendidik” murid. Sebab, memberikan pelajaran dan mendidik adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Sama-sama menyampaikan dihadapan murid, namun cara dan sasarannya berbeda

Artinya, guru sepatutnya tidak berkutat pada aspek kognitif-nya saja, dengan anggapan bahwa memberikan pengetahuan tentang ragam budaya kepada murid adalah final, dan kewajibannya sebagai guru telah tertunaikan. Cara ini mungkin saja ada positifnya, yang membuat murid kenal akan ragam budaya yang ada. Tapi tidak menjamin si murid paham dan mengerti betul makna keragaman itu, alih-alih menjadi berbudaya

Mengenal budaya adalah tahapan pertama murid mengetahui tentang objek budaya. Namun tidak berhenti sampai disitu, karena pada tahapan selanjutnya, murid diharapkan mampu memahami objek budaya tersebut untuk diaplikasikan kedalam aktifitas sehari-harinya. Hal ini dapat dilihat pada kemampuan murid dalam menghargai budaya orang lain, yang bisa dijadikan salah satu indikator bahwa si murid telah berbudaya

Selanjutnya, kesalahan berpikir kita selama ini bahwa pendidikan kultural-kemasyarakatan adalah kewajiban guru Antropologi atau Sosiologi saja. Seperti yang sudah disebutkan, harus kita bedakan antara “belajar budaya” dengan “mendidik untuk berbudaya”. Yang terakhir adalah arti sederhana dari pendidikan multikultural, yang lebih diarahkan kepada advokasi untuk menciptakan masyarakat yang toleran dan bebas toleransi

Pendidikan multikultural (multicultural education) sesungguhnya merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Dalam cakupan lebih luas, pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti; gender, etnic, ras, budaya, strata sosial dan agama

Pendidikan multikultural dengan demikian memiliki spektrum yang sangat luas, melintasi batas setiap disiplin keilmuan. Yang sepatutnya dijadikan basis metodologis pendidikan. Lebih-lebih dalam konteks keindonesiaan dan kebhinekaan

Konkretnya, pendidikan yang berbasis multi-kultur akan memberikan dampak bagi peserta didik agar terhindar dari pemahaman yang sempit tentang segala hal yang berkaitan dengan etnis, budaya, dan bahkan agama. Dan yang utama, seorang anak tidak lagi terkungkung dalam cara pandang monolitik; menganggap setiap pemikiran dan tindakannya saja yang paling baik, dan benar, seraya mengakui kebenaran orang lain dan menghargainya. Inilah fokus Pendidikan multikultural. Yang mengafirmasi sikap “peduli” dan mau mengerti (difference), atau politics of recognition, yakni pengakuan terhadap orang-orang dari kelompok minoritas

Dalam konteks itu, pendidikan multikultural melihat masyarakat secara lebih luas, mencakup subjek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan dan keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang: sosial, budaya, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya

PESANTREN SEBAGAI WADAH PEMBELAJARAN MULTIKULTUR

Dari sejumlah kelebihan yang dimiliki pesantren, lembaga pendidikan model ini ternyata menawarkan solusi yang efektif dalam pembelajaran multi-etnis para siswanya. Dengan pola pendidikan siswa yang di-asrama-kan, pesantren dapat menjadi wadah strategis penggemblengan wawasan kultural siswa yang tinggal didalamnya

Sungguh banyak lembaga pesantren di Indonesia yang dapat dijadikan contoh dalam tulisan ini. Sebut saja misalnya; Ponpes. Darunnajah di Jakarta, Darussalam di Ponorogo, atau Sidogiri di Pasuruan—untuk menyebut beberapa diantara pesantren besar di Indonesia. Atau Pondok Pesantren Daruttauhid di Malang, yang punya keunikan tersendiri. Meskipun kecil, dan bukan bagian dari deretan pesantren ngetop di Indonesia, Daruttauhid memiliki heterogenitas siswa dan pengajar yang cukup representatif untuk menggambarkan Indonesia kecil

Heterogentias masyarakat santri (murid dan para guru) didalam lembaga pendidikan pesantren inilah yang menjadi kunci efektif pendidikan multikultur. Dengan sistem Asrama yang menjadi trademark pesantren, siswa yang berasal dari berbagai daerah dapat berinteraksi secara intensif, 24 jam tiap harinya. Didalam kamar tidur yang terdiri dari 4 sampai 8 orang, umumnya santri yang ditempatkan didalamnya terdiri dari etnis yang berbeda. Hal ini sengaja dilakukan agar siswa dapat cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Di ruang makan, pada saat belajar, bermain dan berolahraga, para siswa terus berinteraksi satu dengan lainnya tanpa ada batas perbedaan diantara mereka

Jika dibandingkan sekolah lain pada umumnya, proses pendidikan pesantren akan jauh lebih efektif dan efisien, sebab semuanya berjalan tanpa disadari pada muridnya. Murid seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang diajarkan tentang suatu hal. Proses transformasi dan saling pengaruh antar unsur-unsur budaya seperti; bahasa, dialek, cara berpakaian, makanan kesukaan, hoby, dan lain-lain, terjadi secara alamiah, tanpa harus digurui, apalagi dipaksa. Semua keanekaragaman itu menyatu dan membentuk cara hidup dan bergaul masyarakat santri didalamnya

Dalam hal ini, makna pendidikan multikultur pada lembaga pesantren tidak lagi dipahami pada tingkat deskriptif yang tertuang pada kurikulum semata, namun telah melangkah jauh kepada tingkat normatif, sebagai penentu standar perilaku. Tema-tema seperti; toleransi, perbedaan sosial-kultural, diskriminasi, konflik, dan kemanusiaan, telah menjadi wacana harian para murid. Para murid akan terlatih untuk memahami sejumlah tema tersebut, bukan saja dari sudut pandang motif, kebiasaan dan nilai pribadinya, tapi juga dari sudut pandang motif, kebiasaan dan nilai orang lain. Cara pandang ini meniscayakan pengakuan akan kesatuan dalam keragaman

Adanya ketakutan sebagian pengamat pendidikan terhadap implikasi dari pengakuan akan keragaman yang melahirkan sebuah relativitas kebenaran, tampaknya tidak perlu dirisaukan di lingkungan pesantren. Sebab relativitas kebenaran nilai diyakini kuat oleh kalangan pesantren hanya ada pada tataran sosial-kemanusiaan, bukan pada tataran ke-Ilahian. Bahkan keragaman pemahaman itu sendiri merupakan rahmat dari Allah. Sementara hanya Allah-lah yang Maha Benar. Dalam konteks kebudayaan, fokus sentral konsep relativitas kebudayaan adalah bahwa, unsur-unsur kebudayaan dapat dikatakan benar hanya karena sesuai dengan (konteks) lingkungan tersebut. (Paul Horton & Chester Hunt, 1999)

Pendidikan berbasis multikultur dengan sistem pesantren, tentu akan mengurangi sikap dan pandangan etnosentris/sukuisme pada diri anak. Dikatakan “mengurangi” karena pada dasarnya sebagian besar kelompok masyarakat kita masih bersifat etnosentris, (Caplow, 1964)

Lebih jauh lagi, pendidikan multikultur akan mengikis habis pandangan-pandangan monolitik, yang senantiasa memposisikan diri dan kelompoknya yang paling baik, benar, dan mulia, yang sungguh tidak islami itu. Dalam konteks kebangsaan, akibat dari pandangan ini tentu lebih serius bagi keutuhan bangsa yang majemuk. Sungguh sulit menemukan pembenaran dari sikap merasa diri/kelompok lebih unggul dengan menafikkan diri/kelompok lainnya, jika kita hendak memahaminya dalam konteks hidup bersama

Namun semua itu bergantung pada karakteristik pesantren dan pengelolanya itu sendiri. Salah satunya adalah heterogenitas. Artinya, efektif-tidaknya pendidikan multikultur sangat dipengaruhi oleh heterogenitas populasi pesantren didalamnya. Pesantren yang komunitasnya cenderung homogen secara etnis dan budaya mungkin tidak tergolong dalam bahasan ini

Disamping itu, karakteristik pengelola pesantren juga memiliki peran sentral dalam pendidikan ini. Pengelola pesantren berperan penuh dalam membina keharmonisan pluralitas masyarakat santrinya. Keberpihakan terhadap suatu kelompok akan menghambat proses pendidikan multikultur yang sedang diterapkan. Dengan kata lain, pesantren yang terlanjur “berwarna” hijau, merah, biru, kuning dan lain-lain mungkin tidak masuk kedalam kategori lembaga yang efektif dalam pendidikan multikultral. Wallahua’lam bishawab

KAOS “NGALAM”: Original & Limitted Edition

kaos-ngalam-copy1

KAOS ASLI MALANG

Harga MURAH MERIAH. Cuma 40.000 perak (belum termasuk ongkos kirim).

Kunjungi kami di ALIVE Store . Jalan Mayjend Panjaitan No. 15 Malang. Tlp 0341-9989324

Bukan tipuan, bukan boongan…..ini asli buatan Kera Ngalam…..

DATANG dan BUKTIKAN!!!

ANJING ISRAEL

anakkuKekejian yang dilakukan tentara-tentara Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza sudah di luar batas perikemanusiaan. Tentara-tentara Zionis itu bukan hanya membantai warga Gaza dengan bom-bom dan tank-tanknya, tapi juga menggunakan anjing-anjing buas untuk meneror warga Gaza.

Kayed Abu Aukal, seorang dokter emergency di Gaza tidak tahu lagi kata-kata apalagi yang bisa digunakan untuk menggambarkan kekejian tentara-tentara Zionis itu. “Oh, Tuhan! Saya tidak pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti ini,” cuma itu kata-kata yang terlontar dari mulut Dokter Aukal melihat kondisi jenazah Shahd, seorang balita Palestina yang berusia 4 tahun.

Shahd sedang bermain di belakang rumahnya di kamp pengungsi Jabalita, utara Jalur Gaza ketika sebuah bom Israel jatuh di belakang rumah itu. Shahd yang masih balita itu pun gugur syahid. Orang tua Shahd mencoba menyelamatkan puterinya yang sudah bersimbah darah itu, tapi ketika mereka mencoba mengambil jasad Shahd, tentara-tentara Zionis menembaki mereka dari kejauhan.

image0

Selama lima hari jasad Shahd tidak terurus dan tergelak di tanah, sampai akhirnya tentara-tentara Zionis melepaskan beberapa ekor anjing yang langsung mengoyak jasad Shahd yang sudah tak bernyawa. “Anjing-anjing itu menyisakan satu bagian tubuh dari bayi yang malang itu dalam kondisi utuh,” kata Dokter Aukal sambil meneteskan airmata.
“Kami sudah melihat pemandangan yang sangat memilukan selama 18 hari ini. Kami mengambil tubuh anak-anak yang terbakar atau terpisah-pisah, tapi kami belum pernah melihat hal yang seperti ini,” sambungnya.
Melihat jenazah adik perempuannya yang masih balita menjadi santapan anjing-anjing tentara Israel, saudara laki-laki Shahd bernama Matar dan sepupunya bernama Muhammad, nekad mendekati jenazah Shahd, tapi keduanya ditembaki tentara-tentara Zionis hingga gugur syahid.
Tetangga keluarga Shahd, Omran Zayda mengungkapkan, tentara-tentara Zionis Israel itu sengaja melakukan kekejaman itu. “Mereka (pasukan Zionis) mencegah keluarga Shahd yang ingin mengambil jenazahnya, dan mereka tahu anjing-anjing itu akan memakan jenazah Shahd,” ujar Zayda.

image3_thumb1

“Tentara-tentara Israel itu bukan hanya membunuh anak-anak kami, mereka juga dengan sengaja melakukan cara-cara yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Kalian tidak akan pernah bisa membayangkan apa yang dilakukan anjing-anjing itu terhadap tubuh Shahd,” tukas Zayda sambil menahan cucuran air matanya.
Sejumlah warga Palestina mengungkapkan, banyak warga mereka yang mengalami hal yang sama dengan Shahd. Di Jabaliya, tentara-tentara Israel menembaki keluarga Abd Rabu yang sedang memakamkan anggota keluarga yang menjadi korban serangan Israel. Tembakan membuat orang-orang yang ingin memakamkan berlarian mencari perlindungan Bukan cuma menembaki, tentara-tentara Zionis yang biadab itu kemudian melepaskan beberapa ekor anjing ke arah jenazah-jenazah yang belum sempat dimakamkan.
“Apa yang terjadi kemudian sangat mengerikan dan tidak bisa dibayangkan,” kata Saad Abd Rabu. “Anak-anak lelaki kami meninggal di depan mata kami dan kami dihalang-halangi untuk menguburkan jenazahnya. Lalu tentara-tentara Israel itu melepaskan beberapa ekor anjing ke dekat jenazah itu, seakan-akan kekejaman yang sudah mereka lakukan pada kami belum cukup,” tutur Abd Rabu tak kuasa menahan tangisnya.(era/mrg)

URGENSI TAHUN HIJRIYAH BAGI KEBANGKITAN UMAT

Guru MA Daruttauhid

Guru MA Daruttauhid

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Marilah kita senantiasa memanjatkan rasa syukur kita kehadirat Allah swt., sebagai wujud penghambaan kita kepadaNya. Dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi besar, Muhammad saw., juga kepada keluarganya, para sahabat dan kepada semua penegak syariatullah hingga hari kiamat kelak.

Jamaah Jum’at rahimakumullah. Saat ini kita tengah berada pada awal tahun Islam, yakni di bulan Muharram 1430 Hijriyah. Banyak peristiwa agung yang sesungguhnya terjadi pada bulan ini, namun seiring dengan berjalannya waktu, kitapun terlupakan, atau bahkan melupakannya oleh karena sikap dan cara berpikir kita sendiri.

Umat Islam seolah terpana akan kemeriahan tahun baru Masehi. Terpesona oleh hingar-bingar dan gemerlapnya kota menyongsong tahun baru Masehi. Seiring dengan itu, kitapun lupa akan perbendaharaan sendiri. Kita lupa akan mutiara terpendam yang jauh lebih bercahaya dari peristiwa manapun juga di muka bumi ini. Dialah Tahun Hijriyah!

Sebab didalam perputaran Tahun ada pergantian bulan, didalam pergantian bulan ada hari yang berganti, didalam hari ada waktu, yang didalamnya tersebar peristiwa-peristiwa penuh makna. Allah telah ciptakan langit dan bumi, menghidupkan para khalifah-khalifahNya yang agung dimuka bumi, menguji keimanan para Rasul dan memuliakan pribadi-pribadi mereka, kesemua itu diciptakan Allah swt bukan untuk kesia-siaan belaka, namun untuk dikenang, dihayati, lalu kemudian diamalkan (dilestarikan) dalam kehidupan umat.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Upaya mengenang peristiwa-peristiwa penuh makna yang diciptakan Allah itu tidak mungkin dilakukan jika tidak menggunakan perhitungan milik Allah sebagaimana penjelasan ayat di atas tadi.

Bilangan bulan dalam satu tahun Hijriyah adalah 12 bulan. Serupa dengan tahun Masehi, namun bukan berarti sama (identik). Sebab pada Masehi, yang kita kenal adalah Januari, Februari, Maret April dst., yang notabene bukanlah perbendaharaan kita umat Islam. Lebih dari itu, kitapun lambat laun akan “dibutakan” oleh bulan Masehi, sehingga tidak mampu mengenal kemuliaan bulan Muharram, Rajab, Sya’ban yang begitu diagungkan Allah, selain bulan penuh rahmat dan ampunan yaitu bulan Ramadhan, tentunya.

Jamaah Jum’at rahimakumullah. Pada bulan Muharram ini, dimana kita kini berada didalamnya, Allah telah berikan kemuliaanNya yang tiada tara. Yang dapat meluluhkan hati siapapun yang mendengarnya, dan dapat pula mengobarkan semangat bagi siapapun yang mampu mengambil pelajaran darinya. Didalam bulan ini, Allah telah muliakan Nabi Muhammad saw., untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah, hijrah yang menyelamatkan Nabi dari siksaan, hinaan dan cemoohan yang tiada henti dialamatkan kepada Nabi dan para sahabatnya, menuju keselamatan dan kedamaian. Hijrah dari keterpurukan hidup menuju sebuah kesejahteraan sosial. Maka lahirlah sebuah peradaban. Peradaban Madinah!

Tidak hanya itu, di bulan ini, tepatnya pada tanggal 10 Muharram nanti, atau yang dikenal dengan hari “Asyura”. Allah SWT telah menebar sejumlah peristiwa-peristiwa penting, yang dapat diambil ibrah darinya. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw bersabda:

Allah telah menciptakan langit dan bumi pada hari ‘Asyura, menjadikan bukit-bukit pada hari ‘Asyura, menjadikan laut, dan menciptakan Adam dan Hawa pada hari itu…..

Dalam sebuah riwayat yang panjang, Rasul bersabda:

‘Asyura (yang berarti 10), oleh karena Allah SWT telah memuliakan Nabi-Nabi Nya dengan 10 kehormatan: 1) Hari dimana Allah menerima taubat nabi Adam as. 2) hari dimana Allah angkat derajat nabi Idris as. 3) Hari berlabuhnya perahu Nabi Nuh as. 4) Hari lahirnya nabi Ibrahim as., diangkat sebagai “khalilullah” dan diselamatkan Ia dari api Namrud. 5) Hari diterimanya taubat nabi Daud as. 6) Hari diangkatnya nabi Isa as. ke langit. 7) Hari diselamatkannya nabi Musa as dari kejaran Fir’aun. 8) Hari ditenggelamkannya Fir’aun. 9) Hari diselamatkannya nabi Yunus dalam perut Ikan. 10) Hari dimana Allah kembalikan kerajaan nabi Sulaiman as.

Pendapat lain menyebutkan, disebut hari ‘Asyura (ke-10) , karena merupakan urutan ke-10 dari kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat Islam, yakni:

1) kemuliaan Rajab, 2) kemuliaan Sya’ban, 3) kemuliaan Ramadhan, 4) kemuliaan lailatul qadar, 5) kemuliaan Idul fitri, 6) kemuliaan tanggal 1-10 Dzulhijjah, 7) kemuliaan Arafah, 8) kemuliaan Idul Adha, 9) kemuliaan hari Jum’at, dan 10) kemuliaan hari ‘Asyura.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah. Betapa pentingnya hari ‘Asyura, sehingga Rasulullah bersabda, yang diriwayatkan Abu Laits Assamarkand, dari Ibnu Abbas:

Barang siapa berpuasa pada hari ‘Asyura, maka Allah akan memberinya pahala 10.000 malaikat. Dan barangsiapa yang berpuasa pada hari ‘Asyura akan diberi pahala 10.000 orang berhaji dan umrah, dan 10.000 orang mati syahid. Dan barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim pada hari ‘Asyura, Allah akan menaikkan derajatnya sebanyak rambut anak tersebut.

Betapa mulianya hari ‘Asyura, yang kemuliaannya bukan semata diberikan kepada yang berpuasa namun juga bagi siapapun yang menghormati hari tersebut. Rasulullah saw bersabda:

Barangsiapa yang memberi buka puasa pada mukmin yang berpuasa ‘Asyura, maka seola-olah ia memberika buka kepada semua umat Muhammad saw dan telah mengenyangkan perut mereka.

Dalam riwayat lain dari Abi Laits, dari Muhammad bin Maisarah, Rasul bersabda:

Barangsiapa yang melapangkan kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan meluaskan rizkinya sepanjang tahun.

Maha benar Allah, dan Rasululllah sebagai utusannya yang mulia!

Jamaah Jum’at rahimakumullah. Setidaknya ada 4 faktor yang menjadikan penggunaan tahun Hijriyah ini begitu urgen:
1)    Menggunakan tahun Hijriyah sepatutnya memberikan “proud” atau kebanggaan akan perbendaharaan kita sendiri umat Islam, karena demikianlah yang disebutkan Allah dalam al-Qur’an

2)    Menggunakan tahun Hijriyah akan jauh lebih bermakna, sebab disanalah kita akan mengetahui tahapan-tahapan perkembangan Islam

3)    Menggunakan tahun Hijriyah tentunya lebih indah, karena kenikmatan ibadah dari bulan ke bulan dapat terserap kedalam jiwa dan raga umat.

4) Dengan menggunakan perhitungan Hijriyah, kita akan terhindar dari upaya peniruan atau penjiplakan seperti apa yang dilakukan kaum Yahudi dan Nashrani dengan Masehinya.  Mengikuti perhitungan Masehi sama halnya dengan mengikuti cara mereka dalam pemaknaan dan perayaan simbol-simbol yang tersembunyi dibalik bulan-bulan Masehi. Hal ini lambat laun menuntun kita agar mengikut cara berpikir dan bertindak mereka yang jelas-jelas berbeda pandangan hidupnya dengan kita umat Islam. Padahal Rasulullah saw., telah memberikan WARNING kepada kita, bahwa: “Barang siapa yang mengikuti (tindak-tanduk) suatu kaum, maka sesungguhnya ia telah termasuk golongan mereka.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah. Tanpa adanya rasa bangga, kita akan mudah tunduk dan takluk pada pesona orang lain. Namun jika rasa bangga itu ada semata karena Allah, maka kewibawaan diri umat akan terbangun perlahan, memenuhi seantero jagad raya. Sementara yang lain tak akan berarti apa-apa, alih-alih menyilaukan mata kita.

Kewibawaan diri akan melahirkan kepercayaan diri dalam berkarya dan beraktivitas. Inilah modal kebangkitan umat Islam kelak. Maka akan semakin mulia dan terarah pada tujuan cita-cita Islam, jika semua itu terbangun atas dasar pondasi Takwallah! (bertakwa kepada Allah).

BARAKALLAH!

JASA IBU

Mumpung Ibu Masih ada, coba saat BELIAU tidur, saat matanya terpejam, kamu tatap wajahnya itu 5 menit saja, kamu akan tau bagaimana rasanya nanti bila wajah itu sudah tak ada di situ… Lakukan apapun yang bisa kamu lakukan untuknya… LAKUKAN SEKARANG wahai sohibku, bukan besok atau 5 menit lg karena mungkin sekedip matamu dia akan pergi tak kembali… Klo sudah terlanjur ga ada, yaaahhh jangan lupa doa sama TUHAN. Segala macam doa deh. Miss U Mum… Luv U all

Ini adalah mengenai nilai kasih Ibu dari seorang anak yang mendapatkan ibunya sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur. Kemudian dia mengulurkan sekeping kertas yang bertuliskan sesuatu, si ibu segera membersihkan tangan dan lalu menerima kertas yang diulurkan oleh si anak dan
membacanya.

Ongkos upah membantu ibu:
1) Membantu pergi ke warung:         Rp20.000
2) Menjaga adik:                               Rp20.000
3) Membuang sampah:                     Rp5.000
4) Membereskan tempat tidur:         Rp10.000
5) Menyiram bunga:                         Rp15.000
6) Menyapu halaman:                       Rp15.000
                                   Jumlah:          Rp 85.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak yang raut mukanya berbinar-binar. Si ibu mengambil pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama:

1) Ongkos mengandungmu selama 9 bulan:                                         GRATIS
2) OngKos berjaga malam karena menjagamu:                                     GRATIS
3) OngKos air mata yang menetes karenamu:                                       GRATIS
4) Ongkos khawatir krn memikirkan keadaanmu:                                GRATIS
5) OngKos menyediakan makan minum, pakaian dan keperluanmu:    GRATIS
     Jumlah Keseluruhan Nilai Kasih-sayangku:                                      GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca. Si anak menatap wajah ibu, memeluknya dan berkata, “SAYA SAYANG IBU“. Kemudian si anak mengambil pena dan menulis sesuatu di depan suratyang ditulisnya:
LUNAS

Pesan dari Sohib…

         Setelah belajar terus selama sepuluh bulan akhirnya datang juga saat yang dutunggu-tunggu oleh anak pondok yakni pulang pulangan/ libur ramadhan.
         Meski liburnya hampir dua bulan, tidak berarti libur juga sholat, ngaji, dan ta’limnya.
Tetapi liburan ini adalah kesempatan kita untuk da’wah, terutama kepada keluarga dan kerabat dekat lain serta tetangga, dengan akhlak kita atau dengan apapun yang sekiranya membuat mereka senang dengan pulangnya kita.
         Dirumah jangan hanya tidur, atau main tok.Tetapi laksanakanlah tugas kita sebagai prajurit Rosul Muhammad SAW.
         Dan jangan lupa yang paling penting, membantu orang tua dengan menyapu atau mengepel rumah misalnya.
         Mungkin cukup ini aja. Dan slam untuk seluruh asatizah dan santri.
        

         SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA. (R. Zakaria)

ZIONISME DI MALANG SEJAK 1935

By: Muhammad Farid
     Penikmat sejarah
              
Mungkin anda kaget membaca judul tulisan ini, tapi ini fakta yang tak terbantah. Zionisme memang telah ada di Malang sejak tahun 1935. Buktinya masih berdiri tegak bersama gedung milik mereka hingga kini, tepatnya di Jl. Cerme No.16. Lho? bukannya itu bangunan Hotel Cakra yang dulunya gedung Radio Republik Indonesia?
           Yup, tidak salah, tapi jika anda telusuri lebih jauh lagi, pasti anda akan lebih terkejut. Sebelum dialih-fungsikan sebagai gedung RRI tahun 1964, bangunan yang diarsiteki oleh Ir. Mulder ini bernama “maconieke lodge”.
Dibangun pada tahun 1935 dengan gaya bangunan “nieuwe Bouwen” yang berciri atap lurus dan bodi bangunan berbentu kubus, sebagaimana umumnya bangunan lain peninggalan kompeni di kota Malang. Untuk apa gedung “macionieke lodge” ini difungsikan, masih menjadi mistery. Yang umum diketahui hanyalah tempat yang dipergunakan untuk pertemuan-pertemuan penting pihak kompeni. Namun jika melihat logo besar yang terpampang di atas menara gedung, maka dapat dipastikan gedung ini jelas milik zionis!
Ya, logo jangka yang melambangkan 33 derajat tak lain hanya milik kaum zionis di dunia ini (lihat logo dibawah tulisan merah). Lalu apa maknanya? Dan apa hubungannya dengan kaum Yahudi-Zionis.
          Dalam banyak hal di dunia ini, angka 33 derajat mengandung arti penting nan mencengangkan! Coba hamparkan peta dunia, lalu cari titik pertemuan antara 33 derajat lintang utara (LU) dengan 33 derajat bujur timur (BT) dari garis meridian waktu dunia (greenwich). Maka yang anda temukan adalah kota tempat pertarungan tiada henti kaum agamawan, titik paling panas sepanjang sejarah, dan tempat dimana akan terjadinya perang akhir zaman, dialah kota YERUSALEM (al-Quds).
Dalam keyakinan kaum KABBALAH (keyakinan purba yang selalu bersebrangan dengan misi para Nabi utusan Tuhan), angka 33 mengandung arti yang sangat suci. Bahkan dalam struktur keanggotaan Freemansonry (organisasi para kesatria templar dan pasukan militer Yahudi dalam perang salib), seorang yang menempati posisi 33 derajat disebut Grandmaster. Dan masih banyak lagi peristiwa besar yang terjadi tepat di wilayah-wilayah 33 derajat, yang tersebar di seantero dunia.
           Kembali ke Malang, dugaan kuat gedung yang berdiri di Jl. Cerme no.16 ini telah dijadikan basis pertemuan para zionis. Sebab dalam sejarah mereka, ketika para kesatria Templar terpukul mundur oleh pasukan Shalahuddin al-Ayyubi tahun 1187, mereka kemudian menjadikan Perancis sebagai markasnya. Namun ditentang oleh Raja Perancis, King Philip Le Bel dan Paus Clemen V, yang bersama-sama ikut menumpas para kstaria Templar. Akhirnya mereka berlindung ke Raja Skotlandia, Robert de Bruce. Dalam waktu singkat, wilayah Skotlandia menjadi markas besar mereka yang diberi nama “Lodge” (loji), yang merupakan cikal bakal gerakan freemancosry dunia.
         Gedung yang berdiri di Jl. Cerme 16 itu dulu bernama “Maconieke lodge”. Tentu bukan suatu kebetulan nama itu sama dengan nama tempat yang menjadi markas zionis sejak 1307…bukan???
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.